Tampilkan postingan dengan label Kecerdasan Sepritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kecerdasan Sepritual. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Februari 2010

Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim

1. Shahih Bukhari, disusun oleh Bukhari (194-256 H)
2. Shahih Muslim, disusun oleh Muslim (204-262 H)
3. Sunan Abu Daud, disusun oleh Abu Dawud (202-275 H)
4. Sunan at-Turmudzi, disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H)
5. Sunan an-Nasa'i, disusun oleh an-Nasa'i (215-303 H)
6. Sunan Ibnu Majah, disusun oleh Ibnu Majah (209-273).
7. Imam Ahmad bin Hambal
8. Imam Malik
9. Ad-Darimi

Rabu, 09 Desember 2009

Perkembangan Jiwa Beragama Pada Masa Anak-anak dan Remaja

BAB I

PENDAHULUAN


Usia anak-anak dan remaja adalah masa dimana segala sesuatu dengan mudah dibentuk dan akan sangat menentukan bagaimana selanjutnya dimasa yang akan datang. Hal itulah yang mendasari betapa pentingnya penelaahan dan penelitian dilakukan sehingga kita tidak akan melakukan kesalahan-kesalahan fatal dalam membentuk karakter anak yang tentunya akan menjadi penerus kita menjadi khalifah di muka bumi ini kelak. Menjadi khalifah atau pemimpin itu adalah sebuah tanggung jawab besar yang akan dimintai pertanggungjawabanya kelak, sehingga kita perlu membekali dengan segala persiapan sedini mungkin terhadap anak yang notabenenya akan menjadi penerus kita kelak.

Dapat dikatakan bahwa sikap atau kepribadian seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman, dan latihan-latihan yang dilalui pada masa kanak-kanak. Seseorang yang pada masa kecilnya mendapatkan pendidikan, pengalaman dan latihan-latihan terhadap hal-hal yang religius, santun dan ringan tangan (suka membantu) terhadap sesama, empatik terhadap kesusahan dan segala masalah persoalan sosial di lingkungan sekitarnya, maka setelah dewasa nanti akan merasakan pentingnya nilai-nilai agama didalam hidupnya (religius) dan kepribadian (private).

Pendidikan agama haruslah ditanam sejak dini. Karena pendidikan agama sangat penting untuk tumbuh kembang jiwa anak maupun remaja. Dengan agama yang berlandaskan akidah dan akhlaq dapat mengarahkan perilaku anak maupun remaja ke perilaku yang baik. Dengan pendidikan agama tentunya diharapkan adanya implikasi dari rasa agama anak dan remaja yang baik juga.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Perkembangan Jiwa Beragama

Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. Menurut Kohnstamm, tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode, yaitu:

  1. Umur 0 – 3 tahun, periode vital atau menyusuli.
  2. Umur 3 – 6 tahun, periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain.
  3. Umur 6 – 12 tahun, periode intelektual (masa sekolah)
  4. Umur 12 – 21 tahun, periode social atau masa pemuda.
  5. Umur 21 tahun keatas, periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang.

Elizabeth B. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut:

  1. Masa Pranatal, saat terjadinya konsepsi sampai lahir.
  2. Masa Neonatus, saat kelahiran sampai akhir minggu kedua.
  3. Masa Bayi, akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
  4. Masa Kanak- Kanak awal, umur 2 - 6 tahun.
  5. Masa Kanak- Kanak akhir, umur 6 - 10 atau 11 tahun.
  6. Masa Pubertas (pra adolesence), umur 11 - 13 tahun
  7. Masa Remaja Awal, umur 13 - 17 tahun. Masa remaja akhir 17 - 21 tahun.
  8. Masa Dewasa Awal, umur 21 - 40 tahun.
  9. Masa Setengah Baya, umur 40 – 60 tahun.
  10. Masa Tua, umur 60 tahun keatas.


B. Perkembangan Jiwa Beragama Pada Masa Anak-anak

1. Agama Pada Masa Anak- Anak

Sebagaimana dijelaskan diatas, yang dimaksud dengan masa anak- anak adalah sebelum berumur 12 tahun. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. Hurlock, dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan:

1. 0 – 2 tahun (masa vital)

2. 2 – 6 tahun (masa kanak- kanak)

3. 6 – 12 tahun (masa sekolah)

Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata- kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh.

Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh, takut dan cinta padanya sekaligus.

Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman.

2. Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak

Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian:

1. The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng)

Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun, konsep mengeanai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oelh dongeng- dongeng yang kurang ,masuk akal. Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng- dongeng.

Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama daripada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak- kanakannya. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya, pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual, emosional dan spontan tapi penuh arti teologis.

2. The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)

Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika.

Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis, sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya.

3. The Individual Stage (Tingkat Individu)

Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan:

  1. Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi.
  2. Konsep ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan).
  3. Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik, yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama.

Berkaitan dengan masalah ini, imam bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian, yaitu:

a. Fase dalam kandungan

Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit, apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi, tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya,

b. Fase bayi

Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis, seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak.

c. Fase kanak- kanak

Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan. Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia luar. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan- ucapan orang disekelilingnya. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. Anak pada usia kanak- kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam, akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan- tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru.

d. Masa anak sekolah

Seiring dengan perkembangan aspek- aspek jiwa lainnya, perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis. Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang.

3. Sifat agama pada anak

Sifat keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian:

a. Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik)

Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam, cukup sekedarnya saja. Dan mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang- kadang kurang masuk akal. Menurut penelitian, pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun, sejalan dengan perkembangan moral.

b. Egosentris

Sifat egosentris ini berdasarkan hasil ppenelitian Piaget tentang bahasa pada anak berusia 3 – 7 tahun. Dalam hal ini, berbicara bagi anak-anak tidak mempunyai arti seperti orang dewasa.

Pada usia 7 – 9 tahun, doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerak- gerik tertentu, tetapi amat konkret dan pribadi. Pada usia 9 – 12 tahun ide tentang doa sebagai komunikasi antara anak dengan ilahi mulai tampak. Setelah itu barulah isi doa beralih dari keinginan egosentris menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang bersifat etis.

c. Anthromorphis

Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya. Dikala ia berhubungan dengan orang lain, pertanyaan anak mengenai (bagaimana) dan (mengapa) biasanya mencerminkan usaha mereka untuk menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan konkret.

d. Verbalis dan Ritualis

Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal). Mereka menghafal secara verbal kalimat- kalimat keagamaan dan mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka menurut tuntunan yang diajarkan pada mereka. Shalat dan doa yang menarik bagi mereka adalah yang mengandung gerak dan biasa dilakukan (tidak asing baginya).

e. Imitatif

Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh dengan meniru. Dalam hal ini orang tua memegang peranan penting.

Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran, akan tetapi berupa teladan

f. Rasa heran

Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak. Berbeda dengan rasa heran pada orang dewasa, rasa heran pada anak belum kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah saja. Untuk itu perlu diberi pengertian dan penjelasan pada mereka sesuai dengan tingkat perkembangan pemikirannya. Dalam hal ini orang tua dan guru agama mempunyai peranan yang sangat penting

C. Perkembangan Jiwa Beragama Pada Remaja

1. Perkembangan Jiwa Beragama Pada Remaja

Dalam peta psikologi remaja terdapat tiga bagian:

a. Fase Pueral

Pada masa ini remaja tidak mau dikatakan anak- anak, tetapi juga tidak bersedia dikatakan dewasa. Pada fase pertama ini merasa tidak tenang.

b. Fase Negative

Fase kedua ini hanya berlangsung beberapa bulan saja, yang ditandai oleh sikap ragu- ragu, murung, suka melamun dan sebagainya.

c. Fase Pubertas

Masa ini yang dinamakan dengan Masa Adolesen

Dalam pembahasan ini , Luella Cole sebagaimana disitir kembali oleh Hanna Jumhanna Bastaman, membagi peta remaja menjadi empat bagian:

  1. Preadolescence : 11-13 tahun (perempuan) dan 13-15 tahun (laki- laki)
  2. Early Adolescence : 13-15 tahun (perempuan) dan 15-17 tahun (laki- laki)
  3. Middle Adolescence : 15-18 tahun (perempuan) dan 17-19 tahun (laki- laki)
  4. Late Adolescence : 18-21 tahun (perempuan) dan 19-21 tahun (laki- laki).

2. Perasaan Beragama Pada Remaja

Gambaran remaja tentang Tuhan dengan sifat- sifatnya merupakan bagian dari gambarannya terhadap alam dan lingkungannya serta dipengaruhi oleh perasaan dan sifat dari remaja itu sendiri. Keyakinan agama pada remaja merupakan interaksi antara dia dengan lingkungannya. Misalnya, kepercayaan remaja akan kekuasaan tuhan menyebabkannya pelimpahan tanggung jawab atas segala persoalan kepada tuhan, termasuk persoalan masyarakat yang tidak menyenangkan, seperti kekacauan, ketidak adilan, penderitaan, kezaliman, persengkataan, penyelewengan dan sebagainya yang terdapat dalam masyarakat akan menyebabkan mereka kecewa pada tuhan, bahkan kekecewaan tersebut dapat menyebabkan memungkiri kekuasaan tuhan sama sekali.

Perasaan remaja kepada Tuhan bukanlah tetap dan stabil, akan tetapi adalah perasaan yang yang tergantung pada perubahan- perubahan emosi yang sangat cepat, terutama pada masa remaja pertama. Kebutuhan akan allah misalnya, kadang- kadang tidak terasa jika jiwa mereka dalam keadaan aman, tentram dan tenang. Sebaliknya, Allah sangat dibutuhkan apabila mereka dalam keadaan gelisah, karena menghadapi musibah atau bahaya yang mengancam ketika ia takut gagal atau merasa berdosa.

3. Motivasi Beragama Pada Remaja

Menurut Nico Syukur Dister Ofm, motifasi beragama dibagi menjadi empat motivasi, yaitu:

  1. Motivasi yang didorong oleh rasa keinginan untuk mengatasi frustasi yang ada dalam kehidupan, baik frustasi karena kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan alam, frustasi social, frustasi moral maupun frustasi karena kematian.
  2. Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk menjaga kesusilaan dan tata tertib masyarakat.
  3. Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia atau intelek ingin tahu manusia.
  4. Motivasi beragama karena ingin menjadikan agama sebagai sarana untuk mengatasi ketakutan.

4. Sikap Remaja Dalam Beragama

Terdapat empat sikap remaja dalam beragama, yaitu:

1. Percaya ikut- ikutan

Percaya ikut- ikutan ini biasanya dihasilkan oleh didikan agama secara sederhana yang didapat dari keluarga dan lingkungannya. Namun demikian ini biasanya hanya terjadi pada masa remaja awal (usia 13-16 tahun). Setelah itu biasanya berkembang kepada cara yang lebih kritis dan sadar sesuai dengan perkembangan psikisnya.

2. Percaya dengan kesadaran

Semangat keagamaan dimulai dengan melihat kembali tentang masalah- masalah keagamaan yang mereka miliki sejak kecil. Mereka ingin menjalankan agama sebagaio suatu lapangan yang baru untuk membuktikan pribadinya, karena ia tidak mau lagi beragama secara ikut- ikutan saja. Biasanya semangat agama tersebut terjadi pada usia 17 tahun atau 18 tahun. Semangat agama tersebut mempunyai dua bentuk:

a. Dalam bentuk positif

semangat agama yang positif, yaitu berusaha melihat agama dengan pandangan kritis, tidak mau lagi menerima hal- hal yang tidak masuk akal. Mereka ingin memurnikan dan membebaskan agama dari bid’ah dan khurafat, dari kekakuan dan kekolotan.

b. Dalam bentuk negatif

Semangat keagamaan dalam bentuk kedua ini akan menjadi bentuk kegiatan yang berbentuk khurafi, yaitu kecenderungan remaja untuk mengambil pengaruh dari luar kedalam masalah- masalah keagamaan, seperti bid’ah, khurafat dan kepercayaan- kepercayaan lainnya.

3. Percaya, tetapi agak ragu- ragu

Keraguan kepercayaan remaja terhadap agamanya dapat dibagi menjadi dua:

a. Keraguan disebabkan kegoncangan jiwa dan terjadinya proses perubahan dalam pribadinya. Hal ini merupakan kewajaran.

b. Keraguan disebabkan adanya kontradiksi atas kenyataan yang dilihatnya dengan apa yang diyakininya, atau dengan pengetahuan yang dimiliki.

4. Tidak percaya atau cenderung ateis

Perkembangan kearah tidak percaya pada tuhan sebenarnya mempunyai akar atau sumber dari masa kecil. Apabila seorang anak merasa tertekan oleh kekuasaan atau kezaliman orang tua, maka ia telah memendam sesuatu tantangan terhadap kekuasaan orang tua, selanjutnya terhadap kekuasaan apa pun, termasuk kekuasaan Tuhan.

5. Faktor- Faktor Keberagamaan

Robert H. Thouless mengemukakan empat faktor keberagamaan yang dimasukkan dalam kelompok utama, yaitu:

  • Pengaruh- pengaruh sosial
  • Berbagai pengalaman
  • Kebutuhan
  • Proses pemikiran

Faktor sosial mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan sikap keberagamaan, yaitu: pendidikan orang tua, tradisi- tradisi sosial dan tekanan- tekanan lingkungan sosial untuk menyesuaikan diri dengan berbagai pendapat dan sikap yang disepakati oleh lingkungan.

Faktor lain yang dianggap sebagai sumber keyakinan agama adalah kebutuhan- kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi secara sempurna, sehingga mengakibatkan terasa adanya kebutuhan akan kepuasan agama. Kebutuhan- kebutuhan tersebut dapat dikelompokkan dalam empat bagian, antara lain kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan akan cinta, kebutuhan untuk memperoleh harga diri dan kebutuhan yang timbul karena adanya kematian.

Faktor terakhir adalah pemikiran yang agaknya relevan untuk masa remaja, karena disadari bahwa masa remaja mulai kritis dalam menyikapi soal- soal keagamaan, terutama bagi mereka yang mempunyai keyakinan secara sadar dan bersikap terbuka. Mereka akan mengkritik guru agama mereka yang tidak rasional dalam menjelaskan ajaran- ajaran agama islam, khususnya bagi remaja yang selalu ingin tahu dengan pertanyaan- pertanyaan kritisnya. Meski demikian, sikap kritis remaja juga tidak menafikkan faktor- faktor lainnya, seperti faktor berbagai pengalaman.


Makalah Ini Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah PAI

IRAWATI / IAIDU KISARAN


DAFTAR PUSTAKA

Drs. H. Aziz Ahyadi , Psikologi Agama, Mertiana Bandung

Jalaluddin Rakhmat , Psikologi Agama sebuah pengatar, Mizan 2004

Drs. Psy H.A. Aziz Ahyadi , Psikologi Agama, pnerbit Martiana Bandung,

Dr. Nico Syukur Dister, Psikologi Agama, penerbit Kanisius, hal 9

Prof Dr. H. Ramayulis, Psikologi Agama , Kalam Mulia 2004

Aliah B. Purwakanta Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta

Sabtu, 19 September 2009

Selamat Idul Fitri 1430 H

Gema takbir mengiringi azam untuk meleburkan dosa, keikhlasan menjadi harapan untuk sebuah kata maaf. Taqobballahuminna wa minkum. Dan sampaikan rindunya untuk menghirup nafas di ramadhan tahun depan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H.

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN


Dari : MUHAMMAD FAUZI RAHMAN & SELURUH KELUARGA

Rabu, 16 Juli 2008

WIRID HATI

Untuk melakukan wirid hati caranya mudah. Anda harus dan santai dan rileks, Jangan tegang. Ambil posisi meditasi, duduk bersila dengan telapak tangan membuka, sebagai pintu masuk aliran energi positif. Meditasi bias dilakukan sambil berbaring di tempat tidur, kunci pintu kamar anda jangan sampai ada yang mengganggu anda. Redukan lampu, dan fokuskan semua panca indra pada aliran energi yang masuk ke dalam jantung. Tidur telantang, tangan kanan dan kiri taruh di sisi tubuh, dengan telapak tangan menghadap keatas, kepala miringkan kearah kanan.


Tarik nafas yang dalam, rasakan udara masuk ke dalam hidung Anda merayap ke jantung dan perut. Kemudian hembuskan secara cepat. Jangan tegang. Tarik nafas dan hembuskan lebih dari lima kali. Lalu pelan-pelan, ucapkan istiqhfar. ”Astaghfirulloh al adzim”. Ucapkan secara pelan mengikuti tarikan dan hembusan nafas. Ucapkan dengan penuh kasih. Rasanya energi istiqhfar meresap dalam tubuh kita.

Bila ada pikiran datang mengganggu, biarkan.... teruskan beristiqhfar. Dan, secara perlahan kembalikan fokus hati ke dalam istiqhfar. ”Astaghfirulloh al adzim”. Lepaskan simpul-simpul ketegangan yang ada pada diri kita. Pada kaki, tangan, perut, dada, hati dan kepala. Biarkan tubuh kita rileks dan terus lantunkan istiqhfar dengan pelan dan penuh kasih.

Heningkan sejenak diri Anda. Pada saat seperti ini, lakukan afirmasi. Ucapkan berulang-ulang apa yang ada inginkan. Ucapan dengan kalimat langsung dan positif. Sesudahnya ucapkan kembali ”Astaghfirulloh al adzim”. Dan, pelan-pelan buka kelopak mata Anda. Rasakan cahaya yang menyapa. Tarik dan hembuskan nafas kembali.

Inilah Wirid Hati. Jika kita rajin melakukannya.... insya allah, jalan hidup kita akan menjadi lapang. Manfaat jika kita sering mengucap Istighfar.

Dari Abdullah bin Abbas, bahwa

Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar; dan untuk setiap kesempitannya kelapangan; dan Allah memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangkanya"

(HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Hakim).

Penjelasan:

Istighfar adalah kata kunci dalam hadis ini. Dari istighfar ini kemudian muncul berbagai kemudahan dari Allah SWT kepada orang yang melakukannya. Istighfar, secara bahasa, berasal dari kata ghafara yang artinya "menutup". Dalam bahasa Arab, benda yang dipergunakan untuk menutup kepala disebut mughfar. Bila kata ini diawali dengan huruf alif, sin, dan ta' maknanya menjadi meminta atau mengusahakan agar mendapatkan ghafr. Dengan demikian, istighfar berarti meminta kepada Allah agar kita ditutupi dari hal-hal yang menyakitkan atau ditutupi dari akibat dosa yang pernah kita lakukan.

Definisi ini sesuai dengan yang diungkapkan Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, bahwa istighfar adalah memohon kepada Allah agar kita dilindungi dari keburukan yang telah kita lakukan sebelumnya.

Dalam QS Al Anfal ayat 33 disebutkan, ''Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Alllah akan mengadab mereka, sedang mereka meminta ampun (beristighfar).

Dari pemaknaan tersebut terlihat bahwa salah satu "fungsi" istighfar adalah "meredam" murka Allah dan menghindarkan kita dari akibat dosa yang pernah kita lakukan. Yang tak kalah penting, istighfar pun dapat mendatangkan cinta dan kasih sayang Allah seperti yang terungkap dalam hadis di atas.

Ada tiga kemudahan yang Allah berikan pada orang yang selalu beristigfar, tentu dengan sebenar-benarnya istighfar.

Pertama,

Allah akan memberinya "hiburan" tatkala ia bersedih atau dalam kesusahan. Sesulit apapun masalah, Allah SWT akan selalu membukakan pintu-pintu solusi bagi para ahli istighfar. Kedua, Allah memberikan kelapangan di balik kesempitan. Dalam QS Alam Nasyrah ayat 5-6, Allah SWT mengulang hal ini sampai dua kali. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan". Ayat ini ditujukan bagi Rasulullah SAW tatkala jiwa beliau sedang mengalami tekanan yang sangat berat.Dan kita tahu, Rasul adalah orang yang paling sempurna istighfarnya. Ketiga, istighfar dapat mendatangkan rezeki. Antara istighfar dengan rezeki sangat erat kaitannya.

Boleh jadi keduanya adalah sebab dan akibat. Allah SWT berfirman, "Mohon ampunlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, membanyakkan harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai" (QS Nuh: 10-12).

Syeikh Muhammad Asy Syinqithi mengomentarinya: "Ayat yang mulia itu menunjukkan bahwa istighfar dan taubat adalah sebab, sehingga Allah menganugerahkan kenikmatan yang banyak pada mereka yang melakukannya sampai waktu yang telah ditentukan. Allah memberikan balasan (yang baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan berdasarkan syarat yang ditentukan".

Karena istighfar dapat mendatangkan rezeki, tak heran bila Imam Hasan Al Bashri selalu menganjurkan beristighfar pada orang-orang yang mengadu kepadanya tentang kemiskinan, kegagalan panen, kekeringan, tidak punya keturunan, dan berbagai kesusahan lainnya. Wallahu a'lam bish-shawab.



MENGAPA HARUS Teknik Afirmasi (TA)

Catatan singkat oleh Aldin, Master TA.

Hidup, kata teman-teman saya dulu adalah suatu perjalanan yang perlu suatu rancangan dan renungan agar bisa berjalan sesuai dengan harapan kita. Tapi terkadang masih saja tidak sesuai atau pas dengan apa yang kita harapkan. Berbagai kejadian buruk terus berlansung dan seperti tidak ada habis-habisnya. Teman saya bilang kepada saya, hidup ini kok jadi tambah kacau dan tidak pernah membaik, katanya. Waktu itu saya cuma bisa diam saja, karena kebetulan dan sering, saya juga mengalami hal yang sama, hal yang buruk yang juga berulang-ulang. Seperti, sial, kecelakaan, ditipu teman sendiri dan masih banyak lainnya, dan hal-hal umum yang juga terjadi pada orang-orang lain. Beberapa tahun setelah itu, saya bertemu dengan orang yang juga pernah mengalami kejadian buruk kurang lebih sama dengan saya sebelumnya, tapi diatelah berubah, dia bilang hidupnya sekarang lebih baik. Saya tanya apa resepnya tentang keberhasilan dirinya mengubah hidup menjadi lebih positif dan kuat. Dan teman saya itu, pelan-pelan mulai mengajari saya beberapa tehnik dan beberapa hukum kehidupan. Dan pelan-pelan saya mulai mengerti dan mulai giat berlatih dengan gigih dan konsisten. Sejak itu arah hidup saya mulai positif sedikit demi sedikit. Banyak kejadian bagus dalam hidup saya mulai terjadi. Saya merasa gembira dan mulai mendapatkan pekerjaan saya yang pertama setelah sekian lama menganggur yang telah banyak membuat orang di sekeliling saya dulu resah.

HUKUM KEHIDUPAN

Sekarang, saya pelan-pelan akan memberi tahu suatu konsep sederhana tentang hidup yang terjadi di sekeliling kita. Mari kita lihat sama-sama bahwa rumput yang tumbuh di halaman kita itu, kalau kita perhatikan baik-baik tumbuh dari kecil dan makin lama makin panjang tingginya hingga tiba-tiba berubah warna dari hijau menjadi kuning warnanya dan kemudian mati. Dan kejadian berikutnya adalah akan ada hujan turun dan rumput kecil lagi tumbuh dan mulai memanjang hingga mati kembali seperti sebelumnya Semua kejadian yang BERULANG-ULANG tadi itulah yang juga terjadi pada pikiran kita, hidup kita, dan sangat kuat efeknya. Dan sayangnya kita telah membiarkan mengulang ulang suatu konsep hidup dalam pikiran kita yang sangat negatif sehingga TUMBUH subur menjadi kenyataan hidup yang tak terelakan.

Inilah hukum alam semesta yang terlalu sering kita abaikan dan tidak ada usaha sama sekali dari kita untuk meneliti dan memperbaikinya karena kita terlampau sibuk dengan kesulitan kita sendiri. Kita biarkan pikiran dan rasa atau energi benci, cemas, takut, iri, jengkel, sebal, tumbuh sumbur dalam diri dan pikiran kita, dan kita ulang-ulang pikiran itu terus menerus setiap hari. Tanpa disadari kita telah ikut serta membantu menciptakan suatu kondisi yang negatif terjadi berulang-ulang kali didalam rangkaian hukum alam semesta yang punya sifat dasar kreatif dalam mencipta..

RAHASIANYA

Pikiran kita ternyata punya sifat dasar kreatif atau mencipta. Inilah kekuatan yang kita miliki dan kita mainkan dalam hidup ini. Kekuatan dari pikiran yang kreatif!!! Kata mencipta sebenarnya asal kata bahasa Sanskrit yang artinya pikiran. Ingat waktu dulu kita masih sekolah dan setiap hari senin ada upacara dimana kita di minta oleh inspektur upacara untuk mengheningkan cipta atau pikiran untuk mengenang jasa-jasa pahlawan kita dulu? ( kita dulu malah sering tertawa cekikikan dibelakang dan saling senggol. Belakangan saya menemukan bahwa upacara pada hari senin itu bila dilakukan dengan benar, dapat membantu murid dalam belajar dengan baik ). Ini ada cerita lagi.Tetangga sebelah saya akhir-akhir ini sering memikirkan teman-taman lamanya waktu dulu sama-sama sekolah di Amerika. Dia memikirkan si A dan si B. Dalam dirinya, dia bertanya-tanya sudah jadi apa mereka sekarang ini setelah berpisah untuk waktu yang sangat lama. Seminggu kemudian terjadi hal yang mengejutkan. Tanpa disadari teman saya pergi ke suatu tempat pertemuan. Dan dia menemukan temanya lamanya itu berada disana. Dia kaget sekali dengan kejadian itu. Saya bilang kepadanya hal seperti itu bukan suatu yang mistik atau ajaib. Itu adalah suatu bentuk kehidupan yang normal. Itu hasil dari kekuatan pikiran. Saya katakan kepadanya bahwa hidup kita ini, kalau mau, kita bisa ubah, kita bisa desain ulang kembali sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran kita. Kita bisa mainkan hidup kita kearah lebih kuat dan sangat positif. Dan mulai sekarang, saya mulai sarankan kepada teman-teman juga untuk selalu memikirkan hal yang positif. Misalnya, pikirkan atau bayangkanlah berulang-ulang kita akan menjadi apa nanti pada akhirnya, seperti punya rumah bagus dan nyaman, duduk di kursi kulit dan ruangan yang nyaman dan tenang, naik mobil impian kita. Bahagia jalan-jalan dengan pacar atau keluarga dan anak. Pikirkanlah selalu dan bayangkanlah terus menerus suatu bentuk kehidupan yang BANYAK dan MELIMPAH !!! Kuatkanlah diri kita serta fokuskan atau berjanjilah kepada diri sendiri untuk mulai saat ini segera mengubah dan mengganti seluruh pembicaraan didalam setiap lapisan pikiran kita, dari

Negatif menjadi positif. Segera mulai hindari melihat tanyangan seperti kekerasan, cerita kepedihan hidup atau telenovela, dan gossip mengenai percerain artis si A dan artis si B, atau korupsi pejabat si anu. Mulailah Dengan melatih pikiran kita untuk MELIHAT kisah orang sukses yang baik dan MEMBACA buku tentang semangat hidup kearah sukses, dan ikutilah banyak training-training yang bagus.

GARIS START AWAL YANG BAIK

Oh ya, saya sampaikan satu lagi tentang rahasia besar hukum alam semesta yang sudah terlupakan oleh banyak manusia pada jaman sekarang. Jika hukum ini masih tetap saja diabaikan, sangat fatal akibatnya buat kehidupan manusia dan keturunannya. Inilah hukumnya:

BERFIKIR atau BERPERASAAN = BERDOA atau MEMINTA

Atau berdoa = berfikir. Faham? Perhatikan sekali lagi rumusnya dan resapi dalam ingatan kita . Coba kita analisa lagi. Sekedar contoh, bila anda berfikir tentang betapa sulitnya hidup belakangan ini, maka

sebetulnya, atau artinya kita telah berdoa dan minta kepada TUHAN YANG MAHA SEGALANYA untuk di kabulkannya hidup yang MAHA SULIT!!!

Selalu ingat bahwa TUHAN MAHA PENGABUL DOA untuk kepentingan hambanya yang Dia cintai. ( mintalah maaf segera dari Allah atau pikiran kita yang sering membicarakan kata-kata seperti susah-sulit-malas-miskin-jelek-bodoh-sudah mentok-tidak bisa-gaji saya kecil dan ga bakalan naik! Suami atau istri saya tidak bisa diubah sifatnya –dan ribuan kata2 lainya yang kurang lebih sama artinya). Sadarilah mulai sekarang dan renungilah hukum ini secara perlahan-lahan. Inilah suatu start awal kita untuk mengubah hidup kita untuk menjadi BERBEDA dari sebelumnya. Bila kita tetap terus dan berulang-ulang mengatakan hal yang sama di dalam pikiran kita sekarang, kita sudah bisa menebak kejadian apa yang selanjutnya akan terjadi. Faham? Ini satu cerita lagi. Pasti kita sudah tahu bahwa ada tukang baso yang sukses dan ada yang biasa-biasa saja cara hidup dan gaya berjualannya. Suatu malam sepulang saya dari kerja, saya hampiri tukang baso dorong yang biasa lewat rumah saya. Saya panggil dan saya tanya kepadanya,mas, kira-kira punya rencana masa depan yang lebih baik dari yang sekarang?

Sembari menuangkan kuah bakso ke mankuk saya dengan muka letih dan lesu, dia bilang, wah! Mas!, saya ini cuma orang kecil, sekolah dasar saja tidak lulus!!! buat ngasih makan anak istri saja sulit! Mana bisa jadi kaya sih mas?? ( sebenarnya dia telah memohon empat permintaan NEGATIF atau berperasangka buruk mengenai hidupnya, yang pasti segera dikabulkan oleh Tuhan YME, karena nyatanya, sekali lagi tuhan itu MAHA PEMURAH! ). Nah, pelan2 kita bisa analisa sekarang mengapa sekarang tambah banyak orang susah atau miskin. Yang kaya pun sekarang banyak yang menjadi miskin. Tetap kaya pun tidak bahagia terus. Karena apa? Karena kita terlampau sering membicaraksn kesulitan hidup orang lain ataudiri sendiri dalam pikiran kita. ( dulu teman saya ada yang sangat bangga loh, waktu menceritakan kekacauan hidupnya terus menerus sembari nongkrong dan main gitar di ujung gang sampai malam dan besoknya ditegur pak RT karena sangat mengganggu dan teman saya itu malah marah balik karena tidak terima ditegur! ).

MARI UBAH PIKIRAN DAN HIDUP KITA SEKARANG JUGA

Karena kecintaan saya yang sangat kuat terhadap perubahan hidup teman-teman kita setanah air, dimanapun berada, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, lulus atau tidak lulus sekolah, jelek atau cakep, kaya atau miskin, sehat atau sakit, mulai sekarang jangan bersedih lagi tentang hidup! Angkat dan tegakkan kepala dan pandang lurus kedepan baik-baik hidup kita, sayangi dan cintai hidup kita ini dan berlatihlah setiap hari dengan TEHNIK AFIRMASI atau yang biasa saya singkat dengan latihan TA. Saya katakan sekali lagi kepada semuanya lagi, JANGAN BENCI HIDUP KITA LAGI !!! Selama kita masih benci atau tidak suka pada hidup kita yang sekarang, maka, hidup kita hari berikutnya akan selamanya diwarnai dengan banyak kesulitan. Perintahkan dan segera suruh tangan dan kaki kita itu untuk melakukan suatu tindakan memperbailki hidup yang begitu sangat berharga ini. Lupakanlah kemalasan kita. Sebagai Master TA, saya katakan kepada semuanya, “ PERGI DAN

BERLATIHLAHDI SUATU TEMPAT DENGAN PIKIRAN YANG TENANG, DENGAN DISIPLIN YANG KUAT, DAN YAKINLAH PASTI BERHASIL !!! “.

TEHNIK AFIRMASI DAN SEJARAHNYA

Tehnik ini sebenarnya sudah ada dari jaman dahulu kala. Dari jaman Nabi besar kita, yaitu Nabi Muhammad. Ini adalah bukan barang baru sebetulnya. Pada jaman dulu ini namanya latihan dhikir qalbu, atau mengingat ingat atau tepatnya mengulang-ulang menyebut nama besar Allah dalam hati atau 99 Asmaul Husna.Telah terbukti dari berabad abad yang lalu bahwa menyebut sesuatu yang positif dalampikiran, dapat membuat dan mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Nabi sebetulnya telah memerintahkah latihan ini untuk dilaksanakan agar supaya pikiran atau hati kita menjadi sangat kuat dan stabil dalam upaya mencapai hidup yang tenang dan damai di dunia.

Didalam ALQURAN juga diceritakan dan di janjikan suatu kehidupan yang sangat baik yaitu mengenai adanya kehidupan surga yang bertingkat-tingkat. Dan untuk bisa sampai ke surga, diperintahkan oleh Allah kepada manusia untuk supaya dalam hidup duniawinya harus positif terlebih dahulu.

AKHIRNYA

Latihan TA ditujukan bukan untuk mengganti doa atau dhikir yang sudah ada dalam tradisional spiritual islam. Latihan TA justru memperkuat kebenaran ucapan dan perintah Nabi besar bahwa latihan dhikir hati itu memeggang peranan sangat penting dalam kehidupan manusia untuk dilaksanakan dalam sehari-harinya. Latihan TA akan membantu kita dalam memahami sifat dan tindakan serta gaya hidup Nabi Muhammad yang penuh dengan semangat hidup. Saya sebetulnya suka bercerita banyak kepada semua orang orang betapa senangnya hidup saya dan teman-teman saya setelah latihan TA yang sangat MUDAH dan sederhana ini. Tapi saya lebih suka bilateman-teman yang saya cintai, semua giat berlatih setiap malam minimal sepuluh menit saja sebelum tidur. Semuanya pada akhirnya nanti, hidup mejadi sangat mudah dan ringan. Silahkan mencoba !

Sekarang, buatlah tindakan segera untuk mengakhiri gaya hidup kita yang lalu penuh dengan ketidak jelasan dengan membuat jadwal baru segera untuk berlatih TA bersama saya untuk mendapatkan hidup yang BARUdan BERBEDA!!!

BEST REGARDS

Aldin Sobari Master TA

Apa perbedaan antara hambatan dan kesempatan? Perbedaannya terletak pada sikap ita dalam memandangnya. Selalu ada kesulitan dalam setiap kesempatan: dan selalu ada kesempatan dalam setiap kesulitan.(J. Sidlow Baxter)

Fauzi Blog's © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO