Tampilkan postingan dengan label Alam dan Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alam dan Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Januari 2010

Inovasi Lingkungan Hidup, Berkaca Dari Jerman

Ini memang tidak terjadi di Indonesia. Tapi inovasi dan gerakan cinta lingkungan yang dilakukan Jerman, tidak haram kalau kita bisa tiru. Tindakan-tindakan pelestarian tersebut tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan hidup, melainkan berdampak baik juga dalam pengembangan industri baru yang inovatif dan banyak menyerap tenaga kerja.

Industri itu berdaya saing kuat di pasaran internasional dan semakin sering berkegiatan di luar negeri. Dewasa ini setiap sel surya ketiga dan hampir setiap kincir angin kedua berasal dari Jerman.

Pada tahun 2007, 250.000 orang lebih bekerja di bidang energi terbarukan. Di samping itu terdapat sekitar satu juta tempat kerja di sektor teknologi lingkungan - seperti pencegahan pemcemaran air, teknik penyaringan, daur ulang dan renaturalisasi.

Kesempatan kerja baru diciptakan juga oleh perusahaan yang bergerak di bidang teknologi efisiensi (pembangkit listrik dengan taraf efisiensi lebih tinggi, penghasilan arus listrik dan panas secara bersamaan, pembangunan gedung yang hemat energi, renovasi rumah demi efisiensi energi, produksi mobil yang hemat energi).

Menurut data Badan Energi Internasional (IAE), sekarang pun Jerman sudah tergolong kelompok utama negaranegara yang menghasilkan produk perekonomian besar dengan menghabiskan energi dalam taraf relatif rendah. Menurut studi yang dilakukan oleh perusahaan konsultasi bisnis Roland Berger, sampai tahun 2020 sektor teknologi lingkungan akan mempekerjakan lebih banyak orang daripada cabang industri konstruksi mesin dan pabrik mobil yang sekarang masih banyak menyerap tenaga kerja. Tambah lagi dua pertiga penduduk Jerman yakin, bahwa politik lingkungan yang konsekuen akan berdampak positif terhadap lingkungan

Eneloop Portable Solar

Kini panel surya telah banyak digunakan di bermacam-macam benda. Kebanyakan panel surya digunakan sebagai sumber energi alternatif. Beberapa hari yang lalu saya baru saja membahas sebuah tas yang dilengkapi panel surya. Kini, telah ada lagi benda yang mirip, yaitu panel surya portabel.


Benda bernama Eneloop Portable Solar ini tampaknya memang cocok bagi Anda yang sering membawa gadget-gadget. Terkadang anda membutuhkan gadget Anda dikala baterainya habis. Namun tidak dapat menemukan listrik untuk men-charge gadget Anda, maka alat ini adalah jawabannya.


Produk buatan Sanyo ini dapat mengisi adget Anda yang menggunakan USB di mana saja. Inovasi menggunakan panel tenaga surya sebagai sumber energi alternatif sudah berkali-kali diaplikasikan. Seharusnya Indonesia juga dapat mengaplikasikan hal seperti ini. Semoga kita akan segera mendengar benda inovasi yang hemat energi dan ramah lingkungan dari negara kita

CUCI BAJU HANYA DENGAN 2 GELAS AIR

Ketika Anda mencuci, akan ada banyak air yang Anda gunakan. Kini, produsen-produsen elektronik berlomba-lomba menciptakan mesin cuci ekonomis yang hanya membutuhkan sedikit air. Namun teknologi hebat justru ditemukan di Universitas Leeds.

Mesin cuci yang diciptakan hanya membutuhkan segelas air atau cup saja untuk mencuci pakaian kotor. Itu berarti hanya membutuhkan 2% air dibandingkan mesin cuci pada umumnya. Tak hanya itu, mesin cuci ini juga lebih hemat energi.

Bagaimana cara kerjanya? Cara kerjanya adalah menggunakan potongan kecil plastik atau plastic chips yang ukuran per satuannya sekitar 0,5 cm. Plastic chips ini berguna untuk menyerap dan menghilangkan kotoran pada pakaian. Plastik tersebut harus diangkat setelah proses pencucian selesai.


Untuk satu kali penggunaan, akan membutuhkan sekitar 20 kg plastic chips. Tetapi plastic chips ini dapat digunakan sampai 100 kali atau sekitar 6 bulan pemakaian. Ada kabar yang mengatakan bahwa mesin cuci ini akan segera dirilis oleh perusahaan bernama Xeros. Mungkin akan cukup membingungkan siapa sebenarnya penemu teknologi ini, apakah para peneliti di Universitas Leeds atau Xeros.Tetapi tampaknya kehadiran mesin cuci ini akan ditunggu-tunggu. Mengingat pada saat ini orang benar-benar membutuhkan benda-benda yang irit dan hemat.



Inovasi yang menarik ya, tidak bosan-bosannya saya mengingatkan agar kita bangsa indonesia harus menunjukkan kemampuan kita di mata dunia. Kita harus terus menggali potensi yang ada dalam diri masing-masing, untuk menujukkan bahwa Indonesia bukanlah negara yang lemah dan mudah disetir.

Bicara Lingkungan Lewat Film

Lingkungan hidup di Indonesia masih merupakan masalah yang krusial. Hal ini dapat kita saksikan setiap hari seperti kegiatan dan perilaku masyarakat dan industri yang menghasilkan sampah, limbah cair, dan emisi terhadap lingkungan. Selain itu terjadi pemanfaatan sumberdaya alam yang cenderung bersifat eksploitasi, yang menguntungkan bagi beberapa kelompok masyarakat tertentu saja.


Di sisi lain juga terjadi masalah kesenjangan sosial pada masyarakat antara kelompok kaya (elit) dan kelompok miskin (kumuh) terjadi disebabkan rendahnya kompetensi sumberdaya manusia baik pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap pengelolaan lingkungannya masih kurang.


Kondisi yang terjadi seperti tersebut di atas merupakan persoalan penting yang harus diselesaikan dan bila hal ini terjadi secara terus-menerus maka lingkungan akan menjadi rusak dan pada akhirnya akan berdampak juga pada kehidupan manusia. Inovasi pembelajaran yang lakukan sangat menarik dengan alasan: Pertama, Siswa terlibat langsung dalam pembelajaran. Menurut Kerucut Pengalaman dari Edgar Dale, belajar dengan melakukan mempunyai tingkat keberhasilan 90%.


Oleh karena itu, inovasi pembelajaran yang peneliti lakukan sangat membantu siswa dalam mempelajari materi Kimia Lingkungan karena mereka terlibat mulai dari penerimaan materi kimia lingkungan, teknik pengambilan gambar menggunakan Handycam, membuat naskah untuk narasi film dan mengedit film di komputer.


Kedua, Setting film tentang kerusakan di lingkungan berada di sekitar siswa. Hal ini sangat membantu membentuk sikap mereka agar peduli dengan lingkungan karena kerusakan lingkungan itu ada di sekitar mereka dan berdampak langsung pada mereka.

Bikin Rumahmu Hemat Energi, Yuk!

Hemat energi dapat dimulai dari rumah kita sendiri. Membangun atau merenovasi rumah sebaiknya tidak sekadar mementingkan gaya belaka, melainkan ada kiat agar rumah dapat ramah lingkungan. Seorang arsitek yang juga pecinta lingkungan, Robby Wahyu Widodo mencoba memaparkannya.
Ada beberapa opsi dan kesempatan yang dapat kita lakukan terhadap gerakan hemat energi di rumah kita. Langkah-langkah ini sangat baik untuk diterapkan oleh rekan-rekan ketika ingin membangun rumah baru atau merenovasi rumah. Kadang langkah tersebut terkesan sangat sederhana dan tak terlintas di benak kita. Padahal jika ditilik, besar sekali manfaatnya untuk lingkungan sekitar. Apa sajakah itu?
Pencahayaan dengan efisiensi tinggi. Di pasaran banyak dijual lampu yang mengklaim hemat energi. Lampu-lampu ini memang berharga relatif mahal di awal pembelian, namun apakah kita pernah berpikir mengenai life cost-nya? Lampu yang berkualitas jelek pasti lebih sering rusak dan menuntut diganti, dan itu berarti pengeluaran uang, bukan? Jadi saat berbelanja peralatan elektronik, upayakan memilih yang memang benar-benar hemat energi.

Selamat Datang “Kapal” yang bersahabat

Pencemaran emisi diesel yang dihasilkan oleh kapal-kapal [kapal tanker, kargo dll] sangat berpengaruh besar terhadap ancaman kesehatan terutama anak-anak di seluruh dunia. Sehubungan dengan itu, sudah sepantasnya kita merasa lega atas prakarsa yang dikeluarkan oleh Badan Lingkungan Hidup Amerika Serikat atau EPA (The Environmental Protection Agency’s) tentang peraturan standar emisi kapal-kapal besar. Meskipun lingkupnya baru hanya untuk kapal berbendera Amerika dan Kanada saja, namun upaya ini perlu dijadikan contoh oleh Negara-negara lain.

Clean Air Act, itulah peraturan baru EPA yang akan mengontrol emisi kapal laut di perairan Amerika dan Kanada. Lisa P. Jackson, sekjen EPA menegaskan, “Dengan standar yang lebih kuat diharapkan bisa membuat kapal-kapal menjadi lebih bersih dan efisien.” Tentu saja dampaknya akan sangat bermanfaat bagi jutaan rakyat Amerika.

Aplikasi dari peraturan ini adalah dengan cara mengganti dua mesin tenaga penggerak utama kapal dan mesin bantu yang boros energi dengan pemakaian generator portabel kecil untuk lokomotif mesin dengan kekuatan 4.000 kilowatt atau lebih untuk mesin standar dengan per-silinder perpindahan hingga 30 liter per silinder. Dengan cara itu diharapkan akan menekan tingkat emisi nitrogen oksida (NOx) yang saat ini mencapai 1,2 juta ton dan emisi partikel sebesar 143 ribu ton. Wow, sungguh angka yang cukup untuk mematikan jutaan manusia secara perlahan-lahan.

Meskipun hasil optimalnya diprediksi baru bisa tercapai di tahun 2030, namun terobosan ini diperkirakan akan sangat menekan angka kematian prematur dan bisa memaksimalkan 14.000 jam kerja yang hilang. Selain itu Amerika bisa menekan biaya kesehatan dari US 270 miliar menjadi hanya US 3,1 milyar saja. Sementara emisi NOx dan emisi partikel masing-masing akan berkurang sebesar 80% dan 85%.

Tentu saja upaya-upaya ini patut diacungi jempol, dan diharapkan bisa diadopsi oleh negara-negara lain terutama yang wilayah perairannya luas termasuk Indonesia. Hal yang sangat kita dan anak cucu kita tunggu-tunggu.

IPB Temukan Cara Pemulihan Lingkungan

Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menemukan sistem baru dalam hal pemulihan lingkungan tercemar yang dinamakan Bioremendasi. Teknologi karya Dwi Andreas Santoso, Dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan ini mampu membersihkan limbah minyak bumi, air asam tambang atau limbah mengandung merkuri dan fenol.

Untuk membersihkan limbah minyak bumi, Andreas memanfaatkan bakteri Bacillus sp. ICBB 7859, limbah merkuri dengan Pseudomonas pseudomallei ICBB 1512, dan fenol menggunakan khamir Candida sp. ICBB 1167 dan Pseudomonas sp.

Andreas mengklaim, teknologinya menghemat biaya 25%—50% dibanding teknologi bioremediasi yang diterapkan perusahaan minyak. Khusus detoksifikasi merkuri, teknologi itu menurunkan merkuri dalam limbah sampai 98,5% hanya dalam waktu 30 menit, “Teknologi ini sudah teruji keefektifannya dan sudah didaftarkan IPB untuk memperoleh paten,” ungkap Andreas saat merilis temuanya pekan lalu.

BIOREMENDASI : Teknik Baru Pemulihan Pencemaran Lingkungan

Adalah Dwi Andreas Santoso, Dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang telah berhasil menemukan teknik Bioremendasi.

Bioremendasi adalah suatu teknik untuk memulihkan lingkungan dari pencemaran. Teknik yang digunakan adalah dengan memanfaatkan bakteri Bacillus sp. ICBB 7859 untuk mengurangi limbah minyak bumi, Pseudomonas pseudomallei ICBB 1512 untuk limbah merkuri, khamir Candida sp. ICBB 1167 dan Pseudomonas sp. untuk limbah fenol.

Teknik baru yang telah didaftarkan untuk mendapatkan hak paten ini teruji mampu menghemat biaya sebesar 25%—50% dibanding teknologi bioremediasi yang diterapkan perusahaan minyak . Hebatnya lagi, hanya dalam waktu 30 menit limbah merkuri mampu dibersihkan hingga 98,5%.


Hal ini sudah dibuktikan dengan membersihkan areal persawahan di daerah Lembang Bandung yang tercemar limbah pabrik tekstil. Hasilnya hanya dalam hitungan minggu areal persawahan itu sudah bisa ditanami kembali. Suatu temuan yang luar biasa. Terbukti bahwa bakteripun banyak yang menguntungkan, asal tentunya kita mampu bersahabat dengan mereka dan tidak merubah mereka menjadi mutan yang justru berlaku sebaliknya.

GETAH NYATU : Si Elastis Yang Ajaib

Sesuai namanya, getah ini berasal dari pohon Nyatu, pohon yang kebetulan hanya terdapat di Pulau Kalimantan saja. Itupun hanya banyak terdapat di hutan-hutan wilayah Kalimantan Tengah dan Selatan saja.

Meskipun keberadaan pohon ini sudah mengalami kekurangan akibat deforestasi, tetapi masih ada sebagian masyarakat Kalimantan yang masih mempertahankan membuat pernak-pernik dari bahan getah ini. Warga Desa Dahirang Kuala Kapuas Kalimantan Tengah misalnya.

Dari getah inilah, warga menggunakannya untuk membuat berbagai kerajinan. Getah yang berwarna putih ini sangat elastis hingga bisa dibentuk menjadi kriya yang unik. Contohnya miniatur perahu, rumah khas betang Kalimantan, patung Dayak dan gantungan kunci.

Sungguh ironis memang, dimana masyarakat masih menggantungkan hidupnya dengan membuat dan menjual hasil kerajinan tangan mereka, namun akibat pembabatan hutan bahan baku getah nyatu ini nyaris terancam punah. Selain itu, getah inipun hanya bisa keluar jika dilakukan penebangan, bukan dengan cara disadap sperti kebanyakan getah pohon lain. Ini juga salah satu faktor mengapa pohon nyatu sudah jarang ditemui.

Dan yang paling mengkhawatirkan, hasil penelitian mengungkapkan pohon ini tidak bisa dibudidayakan karena dia hanya bisa berkembangbiak di lingkungan aslinya. Dilematis, kalau mereka tidak punya kesadaran untuk menggantikan pohon yang sudah ditebang dengan bibit baru. Meski untuk mendapatkan hasil yang maksimal, perlu waktu yang tidak sebentar.

Mainan Made In Cina : Memang Murah, Tapi Mengandung Racun Timbal

Siapa bantah, produk China saat ini benar-benar sedang “membanjiri” pasar dunia, termasuk Indonesia. Salah satuna adlah produk mainan. Percaya atau tidak, China adalah pemasok mainan terbesar ke Indonesia.

Kelebihan produk tiongkok ini, selain design dan bentuk yang bagus, warna-warna yang cerah, harganya kadang-kadang membuat kiat geleng-geleng kepala saking murahnya. Weiits….tapi nanti dulu, jangan gampang tergoda untuk membelinya, karena dibalik murah dan meriahnyamain itu, ternyata tersimpan “racun” yang membahayakan. Masak sih?

Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisional Indonesia (APMETI) menemukan hampir 80% mainan produk Cina itu mengandung racun timbal yang mematikan. Sebagian besar mainan yang terbuat dari plastik, karet dan logam itu mudah mengurai dalam suhu panas. Memang efeknya tidak serta merta terasa, namun hasil penelitian menyatakan jika dimainkan oleh anak-anak secara terus menerus maka dalam jangka panjang akan mengakibatkan asma, sakit pernafasan, kurangnya konsentrasi bahkan autis akibat sering menghirup racun timbal.

Herannya, ketika di negara-negara lain sudah ditarik dari pasaran, di Indonesia malah sangat diminati. Apa boleh buat, harga murah dan terjangkau tetap jadi primadona masyarakat kita yang nota bene didominasi kalangan menengah ke bawah.

Mungkin yang membuat kita sedih, pemerintah yang seharusnya melindungi masyarakat terkesan masih setengah hati menangani masalah ini. Ditambah lagi dengan perjanjian FTA (Perdagangan bebas Asia) yang mulai diberlakukan tahun ini dengan biaya pajak 0% , sehingga produk-produk asal Cina ini semakin membanjiri pasar Indonesia.

Kalau sudah begini, sudah susah dibendung bukan? Tapi daripada anak-anak Anda keracunan parah?

Selasa, 31 Maret 2009

Hari Bumi, Suatu Refleksi Kesadaran yang Menyedihkan

Kini bumi mulai diberi perhatian lebih, ketika bumi mulai menunjukkan kehancuran dan alam mulai beringas menerjang kehidupan manusia. Perhatian yang cukup riskan jika kita melihat dan meneropong kerusakan dan kehancuran bumi yang kini sudah mulai menampakkan kehancurannya, kehancuran yang diakibatkan oleh ulah dan tindakan manusia yang tidak didasarkan oleh kesadaran untuk tetap menjaga kelestarian dan keberlangsungan untuk kehidupan selanjutnya.

Ya..,kehancuran bumi kini mulai menunjukkan kehancurannya, salah satu contoh yang cukup menonjol adalah perubahan iklim yang cukup ekstrem dan pemanasan global yang mengakibatkan mencairnya gunung es abadi di kutub.

Secara detil, perubahan iklim ini mengakibatkan beberapa fenomena alam yang tidak diperkirakan sebelumnya dan kalau ditinjau dari segi penelitian fenomena tersebut tidak terjadi di daerah tersebut. Sedangkan pemanasan global selain menyebapkan mencairnya gunung es di kutub, pemanasan global juga mengakibatkan berbagai flora dan fauna di dunia yang tidak dapat beradaptasi mengalami kepunahan. Secara awam, hal ini dapat dilihat dari warna daun muda yang kecoklatan seperti terbakar.

Hal ini jika tidak ditindak lanjuti secara serius bumi akan hancur beserta isinya. Peran serta dan kesadaran bersama sebagai penghuni bumi diperlukan dalam menjaga dan mengembalikan keadaan bumi yang hancur akibat perbuatan manusia.

Kini saatnya kita hargai alam, agar alam juga menghargai kita sebagai penghuni bumi. Ya, karena itu semua saling berkaitan, atau dapat dibilang hukum sebab akibat. Apa yang dibuat pasti ada akibatnya, dan apa pun yang terjadi pasti ada penyebabnya.

Selamatkan bumi, mulai dari sekarang, dari dalam diri sendiri dan dari hal yang terkecil.

Minggu, 15 Maret 2009

Pencemaran Pesisir

Oleh : Fauzi

Pertumbuhan jumlah penduduk yang mendiami wilayah pesisir dan meningkatnya kegiatan pariwisata juga akan meningkatkan jumlah sapah dan kandungan bakteri yang dapat menyebabkan berbagai kerugian bagi lingkungan pesisir. Penggunaan pupuk untuk menyuburkan areal persawahan di sepanjang Daerah Aliran Sungai yang berada di atasnya serta kegiatan-kegiatan industri di darat yang membuang limbahnya ke dalam badan sungai yang kemudian terbawa sampai ke laut melalui wilayah pesisir. Hal ini akan menperbesar tekanan ekologis wilayah pesisir.

Sumber pencemaran yang berasal dari limbah industri dan kapal-kapal di sepanjang wilayah pesisir umumnya mengandung logam berat. Kandungan logam berat diperairan diperkirakan akan terus meningkat dan akan mengakibatkan terjadinya erosi dan pencucian tanah, masuknya sampah industri dan pembakaran bahan baker fosil ke perairan dan atmosfer, serta pelepasan sedimentasi logam dari lumpur aktif secara langsung.

Selain hal-hal di atas, dengan semakin besar dan banyaknya aktivitas perekonomian yang dilakukan di wilayah pesisir dan lautan, seringkali pula menimbulkan pengaruh dalam pengelolaan sumber daya dan lingkungan wilayah pesisir misalnya (Dahuri 2001):
• Perkapalan dan transportasi: tumpahan minyak, air ballast limbah padat dan kecelakaan.
• Pengilangan minyak dan gas : tumpahan minyak, pembongkaran bahan pencemar, konversi kawasan pesisir.
• Perikanan: overfishing, destruksi habitat, pencemaran pesisir, pemasaran dan distribusi, modal dan tenaga/ keahlian
• Budidaya perairan : ekstensifikasi dan konversi mangrove.
• Kehutanan: penebangan dan konversi hutan.
• Pertambangan: penambangan pasir dan terumbu karang
• Industri: reklamasi dan pengerukan tanah.
• Pariwisata: pembangaunan infrastruktur dan pencemaran.

Pesisir Indonesia, Dalam Analisis Ekologi Lingkungan

Oleh : Fauzi

Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah pesisir yang kaya dan beragam akan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan. Negara kepulauan yang memiliki garis pantai sepanjang 81.000 km termasuk negara kedua yang memiliki garis pantai terpanjang setelah Kanada. Luas wilayah laut negeri kita, termasuk didalamnya zona ekologi ekslusif, mencakup 5,8 juta kilometer persegi, atau sekitar tiga perempat dari luas keseluruhan wilaya Indonesia (Dahuri 2002). Dengan kenyataan seperti itu sumber daya pesisir dan lautan Indonesia merupakan salah satu modal dasar pembangunan Indonesia yang sangat potensial disamping sumber daya alam darat. Sumber daya wilayah pesisir diprediksi akan semakin meningkat peranannya dimasa-masa mendatang dalam mendukung pembangaunan ekonomi nasional.

Dengan meningkatnya pemanfaatan wilayah pesisir yang, hal ini menyebabkan daya dukung wilayah pesisir akan berkurang jika penggunaaannya tidak dilakukan secara terpadu dan terkendali. Untuk menjaga agar daya dukung wilayah pesisir tidak mengalami penurunan yang besar maka perlu diperhatikan pula factor-faktor yang brdampak terhadap lingkungan pesisir.

Beberapa hal yang dapat mempengaruh lingkungan pesisir dapat dikemukakan seperti: pertambahan jumlah penduduk dunia, kegiatan-kegiatan manusia, pencemaran, sedimentasi, ketersediaan air bersih, overeksploitasi sumberdaya alam,

Permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidup. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan sebuah benda, daya, keaadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia sertas makhluk hidup lain (Bapedal, 1997).

Kerusakan lingkungan dapat terjadi karena adanya kegiatan (aktivitas) yang dilakukan oleh manusia maupun karena pengaruh alam. Salah satu akibat samping dari kegiatan pembangunan diberbagai sector dan daerah adalah dihasilkannya limbah yang semakin banyak, baik jumlah maupun jenisnya. Limbah tersebut telah menimbulkan pencemaran yang merusak fungsi lingkungan hidup (Tandjung, 1991).

Daerah pesisir merupakan salah satu dari lingkungan perairan yang mudah terpengaruh dengan adanya buangan limbah dari darat. Wilayah pesisir yang meliputi daratan dan perairan pesisir sangat penting artinya bagi bangsa dan ekonomi Indonesia. Wilayah ini bukan hanya merupakan sumber pangan yang diusahakan melalui kegiatan perikanan dan pertanian, tetapi merupakan pula lokasi bermacam sumberdaya alam, seperti mineral, gas dan minyak bumi serta pemandangan alam yang inda, yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia, perairan pesisir juga penting artinya sebagai alur pelayaran.

Di daratan pesisir, terutama di sekitar muara sungai besar, berkembang pusat-pusat pemukiman manusia yang disebabkan oleh kesuburan sekitar muara sungai besar dan tersedianya prasarana angkutan yang relatif mudah dan murah, dan pengembangan industri juga banyak dilakukan di daerah pesisir. Jadi tampak bahwa sumberdaya alam wilayah pesisir Indonesia telah dimanfaatkan secara beranekaragam. Namun perlu diperhatikan agar kegiatan yang beranekaragaman dapat berlangsung secara serasi. Suata kegiatan dapat menghasilkan hasil samping yang dapat merugikan kegiatan lain. Misalnya limbah industri yang langsung dibuang ke lingkungan pesisir, tanpa mengalami pengelohan tertentu sebelumnya dapat merusak sumber daya hayati akuatik, dan dengan demikian merugikan perikanan.

Lingkungan pesisir terdiri dari bermacam ekosistem yang berbeda kondisi dan sifatnya. Pada umumnya ekosistem kompleks dan peka terhadap gangguan. Dapat dikatakan bahwa setiap kegiatan pemanfaatan dan pengembangannya dimanapun juga di wilayah pesisir secara potensial dapat merupakan sumber kerusakan bagi ekosistem di wilayah tersebut. Rusaknya ekosistem berarti rusak pula sumberdaya di dalamnya. Agar akibat negatif dari pemanfaatan beranekaragam dapat dipertahankan sekeci-kecilnya dan untuk menghindari pertikaian antar kepentingan, serta mencegah kerusakan ekosistem di wilayah pesisir, pengelolaan, pemanfaatan dan pengembangan wilayah perlu berlandaskan perencanaan menyeluruh dan terpadu yang didasarkan atas prinsip-prinsip ekonomi dan ekologi.

Kamis, 15 Januari 2009

Illegal Logging, Realita yang Mengharukan

Oleh : Muhammad Fauzi Rahman

” Dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi, sesudah ( Allah ) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut ( tidak akan diterima ) dan harapan ( akan dikabulkan ). Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya ( hujan ); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami bangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran”. ( QS. Al-A’raaf: 56 )


Maha Suci Allah, atas segala nikmat dan limpahan karunia-Nya. Begitu banyak nikmat dan karunia-Nya ditebarkan baik didalam maupun permukaan bumi. Khususnya Indonesia, dengan keAgungan-Nya, Indonesia berada pada daerah tropis yang memiliki hutan tropik dengan kekayaan flora dan fauna yang melimpah ruah. Keberadaan itu membuat Indonsia termasuk salah satu negara yang memiliki SDA terbesar di dunia, terutama sumber hutan yang tersebar dari sabang sampai marauke.

Kekayaan Hutan Indonesia

Berdasarkan data Dinas Kehutanan, pada tahun 1950 dalam skema peta vegetasi menyatakan bahwa 10 % dari hutan Indonesia merupakan hutan tropik dunia, dimana luas hutan Indonesia sekitar 162.290.000 Ha ( 84 % menutupi daratan Indonesia ), yang terdiri dari hutan primer dan sekunder dengan rincian, luas hutan Kalimantan sekitar 51.070.000 Ha, Sumatra 37.370.000 Ha, Maluku 7.300.000 Ha, Jawa 5.070.000 Ha, dan Bali juga Nusa Tenggara Barat/ Timur sekitar 3.400.000 Ha. Keadaan ini membuat Indonesia memiliki 515 jenis mamalia ( 12 % dari jumlah mamalia dunia ), 1519 jenis burung dengan 397 jenis burungnya hanya terdapat di Indonesia dan 16 jenis binatang reptil dan amphibi, serta terdapat 1400 jenis ikan ( 25 % dari jenis ikan dunia ) dengan 97 jenis ikan karangnya hanya terdapat di perairan laut Indonesia.

Selain itu, hutan Indonesia juga mempunyai fungsi sebagai penyimpan jumlah karbon terbesar di dunia. Data FAO menunjukkan bahwa keberadaan hutan Indonesia menghasilkan lebih dari 14 miliar ton biomassa. Jumlah biomassa yang ada di Indonesia dapat menyimpan sekitar 3,5 miliar ton karbon. Kondisi ini memberikan manfaat terhadap ketersediaan oksigen ( O2 ) dunia dan penyerapan karbondioksida ( CO2 ). Tetapi keadaan ini tidak diolah dan dimanfaatkan dengan baik yang berasaskan lingkungan dan kelestariannya, manusia hanya melihat nilai ekonomis dari hutan dan bukan melihat dampak dari semua yang mereka lakukan terhadap hutan untuk kedepannya, begitu ironis, manusia mulai kehilangan nilai luhurnya menjaga kelestarian hutan yang nantinya akan kita wariskan kepada anak cucu kita.


Kondisi illegal logging di Indonesia

Meneropong kondisi hutan dan aktifitas illegal logging di Indonesia, berdasarkan data tahun 2003, tercatat bahwa secara nasional tingkat kerusakan hutan ( deforestasi ) mencapai 1,6 – 2 juta hektar setiap tahunnya. Hal yang sama juga terjadi di Sumatra Utara, berdasarkan Perda No. 7 Tahun 2003, hutan di Sumatra Utara sekitar 3.679.338 hektar, dengan 1.557.200 hektar diantaranya adalah hutan lindung. Tetapi keadaanya secara eksplisit terus mengalami perubahan, dimana tingkat deforestasi yang terjadi di Sumatra Utara mencapai 76.000 hektar/tahun, dalam artian bahwa setiap harinya tingkat deforestasi mencapai 210 hektar.

Apabila keadaan ini terus berkelanjutan dan tidak ada penanganan yang serius dari pemerintah ataupun non-pemerintah, akan dikhawatirkan hutan yang ada di Sumatra Utara akan habis dalam rentang waktu sampai 15 tahun kedepan. Data terakhir menunjukkan ( November 2004 ), kerusakan hutan di Sumatra Utara mencapai 694.295 hektar ( 18,78 % dari luas hutan di Sumatra Utara ) dan sebagian besar terjadi di kawasan hutan lindung seluas 207.575 hektar yang sebagian besar diakibatkan oleh pembalakan liar ( illegal logging ) oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Sungguh sangat memprihatinkan keadaan hutan Indonesia dari Sabang sampai Marauke, kini habitat dan ekosistemnya mulai hancur dan terancam punah. Permasalahan ini bukan saja menjadi wacana hangat pemerintahan Indonesia, hal ini juga menjadi rubrik pembahasan masyarakat internasional. Keadaan sumberdaya hutan Indonesia terancam krisis dan kecaman dari berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri yang prihatin terhadap kondisi hutan Indonesia dan dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan dunia, terutama terhadap Indonesia sendiri yang kini sangat rentan terhadap bencana alam ( kekeringan, banjir, dan tanah longsor ).

Hal ini bukan lagi sebagai ancaman tetapi sudah menjadi realita yang mengharukan keadaan Indonesia, dimana 647 peristiwa bencana alam terjadi pada kisaran waktu 1998 sampai 2003, dengan catatan korban mencapai 2022 korban jiwa dan kerugian harta benda milyaran rupiah. Berdasarkan analisis data Bakornas Penanggulangan Bencana ( 2003 ), 85 % dari bencana merupakan akibat dari kerusakan hutan.


Lihat dan Renungkanlah


” Telah tampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari ( akibat ) perbuatan mereka, agar mereka kembali ( ke jalan yan benar ). “
( QS. Ar-Ruum: 41 )


Dari ayat Al-Qur’an diatas, Allah telah memperingatkan manusia untuk selalu menjaga keseimbangan alam, dan hidup harmonis dengan karunia yang Allah limpahkan dipermukaan maupun didalam perut bumi, agar tidak terjadi kerusakan yang dapat mengancam hajat hidup mahluk yang ada di permukaan bumi.

Sungguh nyata Kekuasaan Allah, dengan Al-Qur’an Ia pertegas ke-Esaan-Nya, dengan ke-Agungan-Nya, Ia tunjukan peristiwa yang dikendaki-Nya agar manusia sadar dan belajar dari keadaan tersebut untuk bersyukur dan kembali kejalan yang benar menuju fitrahnya mengabdi keapada Allah.

Lihat, betapa besar kerusakan yang kita perbuat dipermukaan bumi selama ini, ketidak seimbangan kini mulai terjadi, berbagai bencana menyeruak di bumi, menyisir waktu demi waktu yang tidak lebih hanya duapuluh empat jam untuk menyingkap perbuatan manusia terhadap alam. Dan sekarang marilah kita renungkan bersama, betapa banyak kerusakan yang telah kita buat dipermukaan bumi, seberapa banyak karunia-Nya yang kita tidak syukuri hingga membuat kita begitu serakah menuruti nafsu dunia, seberapa sering kita melalaikan tugas dan kewajiban kita kepadan-Nya, seberapa lamakah usia kita sehingga kita bersantai ria dan terbuai menikmati kenikmatan dunia yang fana ini dan bahkan berbuat kerusakan yang mengancam hajat hidup orang banyak, padahal kita diutus dipermukaan bumi untuk menjaga alam dan menjadi khalifah Allah untuk menebarkan kebaikan, menyampaikan syariat dan firman-Nya serta kabar gembira bagi orang yang bersyukur dan mengabdi kepada-Nya, karena dunia ini hanyalah tempat persinggahan, sebagaimana firman Allah :

“ …Allah berfirman, “ Kamu tinggal di bumi ini melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahuinya ”. ( QS. Al-Mu’minuun : 114 )

Dan kini mari bersama kita ciptakan cakrawala tauhid kita untuk menggapai ridha Illahi, karena saya yakin, sadar atas kedudukan kita sebagai mahluk ciptaan Allah, akan membawa kita untuk menikmati hidup berlandaskan syukur, mengabdi kepada-Nya, dan menjadi khalifah Allah dengan menjaga sendi-sendi kehidupan dan ketahuidan kita terutama menjaga alam untuk sesama, karena ini semua hanyalah amanah, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Mulailah dari sekarang, mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal-hal kecil, dan mulailah untuk menjadi penegak amanah Ilahi, serta buatlah yang terbaik untuk negerimu Indonesia.



*) Opini ini di ajukan untuk mengikuti Sayembara Corat – Coret yang di adakan oleh BTM3 UNIMED 2008.
*) Juara II Lomba Sayembara Corat – Coret yang di adakan oleh BTM3 UNIMED 2008.

Minggu, 09 Maret 2008

Hutanku di Ujung Tanduk

Oleh : Muhammad Fauzi Rahman

Letak geografis Indonesia mendukung perkembangan hutan hujan tropis yang memiliki kekayaan flora dan fauna yang beraneka ragam. Tetapi keadaan ini tidak diolah dengan baik yang berasaskan lingkungan dan kelestariaannya, dimana para pemegang hak pengusahaan hutan (HPH), ijin pemanfaatan hasil kayu (IPHHK), dan hak pengusahaan hutan tanaman industri dan lain-lain hanya melihat nilai ekonomis dari hutan dan bukan melihat dampak dan kelestariaan hutan untuk kedepannya, begitu ironis, manusia mulai kehilangan nilai luhurnya menjaga kelestarian hutan.

Sungguh sangat memprihatinkan keadaan hutan Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Marauke dan telah di tetapkan menjadi paru-paru dunia kini kondisinya sungguh sangat memprihatinkan. Permasalahan ini bukan saja menjadi wacana hangat pemerintah Indonesia, hal ini juga menjadi rubric masyarakat internasional. Keadaan sumberdaya hutan Indonesia terancam krisis dan kecaman dari berbagai pihak baik dalam dan luar negeri yang prihatin terhadap kondisi hutan Indonesia dan dampaknya terhadap lingkungan yaitu terjadinya perubahan iklim (climate changing) yang mengancam hajad hidup orang banyak.

Meneropong kondisi hutan di Indonesia, berdasarkan data tahun 2003, tercatat bahwa secara nasional tingkat kerusakan hutan (deforestasi) mencapai 1,6 – 2 juta hektar setiap tahunnya. Hal yang sama juga terjadi di Sumatra Utara, berdasarkan Perda No. 7 tahun 20003 hutan di Sumatra Utara sekitar 3.679.338 hektar, dengan 1.557.200 hektar diantaranya adalah hutan lindung. Tetapi keadaan secara eksplisit terus berubah, dimana tingkat deforestasi yang terjadi di Sumatra Utara mencapai 76.000 hektar/tahun, dalam artian bahwa setiap harinya tingkat deforestasi mencapai 210 hektar. Apabila keadaan ini terus berlanjut dan tidak ada penanganan yang serius dari pemerintah ataupun non-pemerintah, akan dikhawatirkan hutan yang ada di Sumatra Utara akan habis dalam rentang waktu samapai 15 tahun. Data terakhir menunjukan (November 2004), kerusakan hutan di Sumatra Utara mecapai 694.295 hektar (18,78%) dan sebagian besar terjadi di kawasan hutan lindung seluas 207.575 hektar.

Dari analisis dan pengamatan, didapat indicator penyebab penyempitan lahan hutan antara lain yaitu ; terjadinya konversi hutan untuk perluasan perkebunan terutama perkebunan kelapa sawit; konversi hutan untuk pertambangan; penebangan hutan secara besar-besaran hutan industri dan hutan lindung, baik legal (HPH, IPHHK, HPHTI ) maupun illegal yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab; konversi hutan untuk kegiatan transmigrasi serta pengembangan dan perluasan wilayah.

Hutan kita di UJUNG TANDUK, haruskah kita menutup mata, dan hanya hanya berkata lirih inilah keadaanya! kalau bukan kita siapa lagi yang peduli.
Tunjukan kepedulian anda bung !!!.

Rabu, 14 November 2007

Peran Pelajar dan Pemuda di Republik OrangUtan














Oleh : Muhammad Fauzi Rahman



“Hai manusia, adakah kalian peduli kepadaku?” mungkin hal ini yang disampaikan seandainya orangutan dapat mengutarakan keadaannya terhadap kondisi populasi dan habitatnya yag mulai hancur dan terancam punah. Sungguh keadaan yang cukup tragis, satwa endemik dikawasan Asia Tenggara khususnya Indonesia (Sumatra ( Pongo Obelii) dan Borneo (Pongo Pygmeus)) terancam punah.

Seandainya aku jadi manusia…..
Seandainya aku…………………..
Seandainya aku…………………..

Sepucuk klise kata hati yang tidak terungkap tabir, seperti nasibnya yang muram buram di alam kepunahan. Bagaimana tidak, berdasarkan data yang ada, populasi orangutan terus mengalami penurunan dari tahun ketahun, hal ini dapat dilihat dari jumlah populasi orangutan diperkirakan hanya 7.500 ekor dari populasi orangutan tahun 1990 yang mencapai 200.000 ekor. Di Sumatra Utara, populasinya hanya 380 ekor dengan kepadatan populasi perkilometer persegi sekitar 0,47-0,82 ekor.

Ada beberapa hal dan kemungkinan yang menjadi faktor penyebab terjadinya penurunan populasi satwa ini, secara umum ada beberapa faktor utama penyebab penurunan populasi satwa ini ; terjadinya penebangan hutan (hutan lindung maupun hutan industri) secara besar-besaran baik legal (HPH, HGU) maupun ilegal, pengalih fungsian hutan menjadi perkebunan dan pemukiman, perburuan dan perdagangan orangutan secara besar-besaran. Untuk menangani hal ini dibutuhkan peran ekstra dan berkelanjutan pelajar dan pemuda dalam menyelamatkan dan menjaga kelestarian orangutan dan juga habitatnya. Secara umum, pelajar dan pemuda mempunyai 4 peran utama yang cukup strategis dalam menjaga keberlangsungan satwa langka ini, peran tersebut antara lain yaitu:

1. Peran Ekologis (Lingkungan)

Hutan Indonesia krisis. Memang cukup memprihatinkan melihat kondisi hutan Indonesia. Tiap tahun tingkat deforestasi (kerusakan hutan) terus meningkat, tercatat pada tahun 2003 tingkat deforestasi mencapai 1,6 sampai 2 juta hektar pertahun ( 210 hektar perhari). Kondisi terakhir (november 2004) kerusakan hutan di Sumatra Utara mencapai 694.295 hektar (18,87 %), dimana kerusakan banyak terjadi di kawasan hutan lindung sekitar 207.575 hektar.

Bagaimana aku bisa lestari, jika habitatku terus dirusak?
Siapa yang peduli padaku, jika manusia hanya berpikir sempit dan egois?
Adakah sepucuk harapan itu?

Dapatkah kita menjawab duka lara para penghuni hutan terutama orangutan ? disinilah peran pelajar dan pemuda diperlukan. Pelajar dan pemuda mempunyai kedudukan sebagai subjek dan objek pemulihan kondisi satwa ini.
Sebagai subjek, pelajar dan pemudalah yang berperan aktif dalam menjaga kondisi orangutan dan habitatnya yang kini terancam punah. Ada berbagai upaya yang dapat dilakukan pelajar dan pemuda, salahsatu contoh aktifitas tersebut yaitu dengan lebih mempelajari dan menganalisa keadaan dan perkembangan populasi orangutan, dan juga keadaan lingkungan sebagai faktor pendukung kelestarian satwa ini. Munculnya berbagai organisasi dan LSM yang bergerak dalam penanganan kondisi orangutan memberikan angin segar kepada aktifitas pelajar dan pemuda, terutama dalam menjalin hubungan dan link keberbagai instansi yang berperan dalam penanggulangan populasi oranguta.

Sebagai objek, pelajar dan pemuda merupakan titik fokus setiap aktifitas yang akan dilakukan, dengan kata lain aktifitas ini memerlukan dukungan dan peran serta pelajar dan pemuda baik ditingkat pusat maupun daerah untuk mencapai target yang diinginkan. Aktifitas ini dapat berupa memberikan penyuluhan serta sosialisasi kepada para pelajar dan pemuda mengenai lingkungan sekitar, habitat dan kondisi populasi satwa langka ini.
2. Peran Yuridis dan Sosial

Sudah banya program penyelamatan orangutan diproklamirkan, namun dilain pihak keadaan satwa ini terus mengalami kepunahan (Critically endanered). Apanya yang salah ?

Keadaan ini menuntut peran ekstra pelajar dan pemuda, yakni dengan menjalin hubungan dan peran serta organisasi, juga instansi terkait dalam melakukan konservasi kondisi orangutan. Ada beberapa strategi praktis yang dapat dilakukan, antaralain yaitu dengan mengkombinasikan pendekatan interaktif dalam perlindungan orangutan dan habitatnya serta peningkatan peran alternatif masyarakat sekitar orangutan melalui program wanatani.

Tetapi yang menjadi prioritas utama kegiatan ini adalah dengan meningkatkan peran yuridis para penegak hukum dan masyarakat setempat, yakni dengan mengontrol dan mengajak masyarakat sekitar habitat orangutan untuk lebih interaktif dalam menghentikan dan memutus jalur perdagangan serta perburuan orangutan, melakukan pengawasan, penyitaan dan sosialisasi mengenai larangan memelihara dan perburuan satwa langka ini (Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistem, yang diperjelas dalam Lampiran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa).
3. Peran Kultur

Hal ini menyakut dalam bagaimana kondisi kultur akademik pelajar dan pemuda, dan norma yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Pelajar dan pemuda merupakan insan-insan terpelajar yang mampu memberikan pengarahan dan pemikiran tentang keadaan yang berkembang dilingkungan sekitarnya. Hal ini merupakan nilai plus untuk lebih memberikan peranannya, terutama dalam mengatasi permasalahan yang terjadi pada satwa endemik Asia Tenggara.

Pelajar dan pemuda dapat menjadikan norma dan adat istiadat yang berlaku sebagai modal awal dalam melakukan pendekatan terhadap masyarakat, pendekatan yang intensive dan terstruktur diharapkan dapat membuat masyarakat sadar akan pentingnya menjaga kelestarian satwa-satwa yang mulai punah termasuk oranguta. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan norma yang melarang penuh masyarakat memburu dan memperdagangkan orangutan, seperti yang terjadi di daerah Bali, para pemuka adat menerapkan bahwa masyarakat dilarang memburu dan memperdagangkan satwa langka dan dilindungi, dan banyak contoh daerah lainnya yang dapat kita terapkan dalam menjaga dan melindungi populasi orangutan dan habitatnya.

Dapatkah populasi orangutan kembali seperti semula? Jauh dari ancaman kepunahan, hanya kita yang dapat menjawab dan membuktikannya. Sekarang tunggu apa lagi? Apakah tunggu sampai mereka punah lalu kita berkoak-koak orangutan telah tiada !!!, atau kita hanya dapat berkata tanpa berbuat apa-apa !!!, dimana tanggung jawab kita, dimana moral dan hati nurani kita yang membiarkan mereka menangis sspenuh luka di ujung kepunahan, entahlah. Semoga kita dapat menjadi air bening membasuh lesuh muka yang telah lama dirundung duka.
(Penulis adalah aktifis komunitas GeoPeduli UNIMED, dan pendiri Newsletter Mata Pena Jurusan Pendidikan Geografi)

Apa perbedaan antara hambatan dan kesempatan? Perbedaannya terletak pada sikap ita dalam memandangnya. Selalu ada kesulitan dalam setiap kesempatan: dan selalu ada kesempatan dalam setiap kesulitan.(J. Sidlow Baxter)

Fauzi Blog's © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO