Rabu, 14 November 2007

Peran Pelajar dan Pemuda di Republik OrangUtan














Oleh : Muhammad Fauzi Rahman



“Hai manusia, adakah kalian peduli kepadaku?” mungkin hal ini yang disampaikan seandainya orangutan dapat mengutarakan keadaannya terhadap kondisi populasi dan habitatnya yag mulai hancur dan terancam punah. Sungguh keadaan yang cukup tragis, satwa endemik dikawasan Asia Tenggara khususnya Indonesia (Sumatra ( Pongo Obelii) dan Borneo (Pongo Pygmeus)) terancam punah.

Seandainya aku jadi manusia…..
Seandainya aku…………………..
Seandainya aku…………………..

Sepucuk klise kata hati yang tidak terungkap tabir, seperti nasibnya yang muram buram di alam kepunahan. Bagaimana tidak, berdasarkan data yang ada, populasi orangutan terus mengalami penurunan dari tahun ketahun, hal ini dapat dilihat dari jumlah populasi orangutan diperkirakan hanya 7.500 ekor dari populasi orangutan tahun 1990 yang mencapai 200.000 ekor. Di Sumatra Utara, populasinya hanya 380 ekor dengan kepadatan populasi perkilometer persegi sekitar 0,47-0,82 ekor.

Ada beberapa hal dan kemungkinan yang menjadi faktor penyebab terjadinya penurunan populasi satwa ini, secara umum ada beberapa faktor utama penyebab penurunan populasi satwa ini ; terjadinya penebangan hutan (hutan lindung maupun hutan industri) secara besar-besaran baik legal (HPH, HGU) maupun ilegal, pengalih fungsian hutan menjadi perkebunan dan pemukiman, perburuan dan perdagangan orangutan secara besar-besaran. Untuk menangani hal ini dibutuhkan peran ekstra dan berkelanjutan pelajar dan pemuda dalam menyelamatkan dan menjaga kelestarian orangutan dan juga habitatnya. Secara umum, pelajar dan pemuda mempunyai 4 peran utama yang cukup strategis dalam menjaga keberlangsungan satwa langka ini, peran tersebut antara lain yaitu:

1. Peran Ekologis (Lingkungan)

Hutan Indonesia krisis. Memang cukup memprihatinkan melihat kondisi hutan Indonesia. Tiap tahun tingkat deforestasi (kerusakan hutan) terus meningkat, tercatat pada tahun 2003 tingkat deforestasi mencapai 1,6 sampai 2 juta hektar pertahun ( 210 hektar perhari). Kondisi terakhir (november 2004) kerusakan hutan di Sumatra Utara mencapai 694.295 hektar (18,87 %), dimana kerusakan banyak terjadi di kawasan hutan lindung sekitar 207.575 hektar.

Bagaimana aku bisa lestari, jika habitatku terus dirusak?
Siapa yang peduli padaku, jika manusia hanya berpikir sempit dan egois?
Adakah sepucuk harapan itu?

Dapatkah kita menjawab duka lara para penghuni hutan terutama orangutan ? disinilah peran pelajar dan pemuda diperlukan. Pelajar dan pemuda mempunyai kedudukan sebagai subjek dan objek pemulihan kondisi satwa ini.
Sebagai subjek, pelajar dan pemudalah yang berperan aktif dalam menjaga kondisi orangutan dan habitatnya yang kini terancam punah. Ada berbagai upaya yang dapat dilakukan pelajar dan pemuda, salahsatu contoh aktifitas tersebut yaitu dengan lebih mempelajari dan menganalisa keadaan dan perkembangan populasi orangutan, dan juga keadaan lingkungan sebagai faktor pendukung kelestarian satwa ini. Munculnya berbagai organisasi dan LSM yang bergerak dalam penanganan kondisi orangutan memberikan angin segar kepada aktifitas pelajar dan pemuda, terutama dalam menjalin hubungan dan link keberbagai instansi yang berperan dalam penanggulangan populasi oranguta.

Sebagai objek, pelajar dan pemuda merupakan titik fokus setiap aktifitas yang akan dilakukan, dengan kata lain aktifitas ini memerlukan dukungan dan peran serta pelajar dan pemuda baik ditingkat pusat maupun daerah untuk mencapai target yang diinginkan. Aktifitas ini dapat berupa memberikan penyuluhan serta sosialisasi kepada para pelajar dan pemuda mengenai lingkungan sekitar, habitat dan kondisi populasi satwa langka ini.
2. Peran Yuridis dan Sosial

Sudah banya program penyelamatan orangutan diproklamirkan, namun dilain pihak keadaan satwa ini terus mengalami kepunahan (Critically endanered). Apanya yang salah ?

Keadaan ini menuntut peran ekstra pelajar dan pemuda, yakni dengan menjalin hubungan dan peran serta organisasi, juga instansi terkait dalam melakukan konservasi kondisi orangutan. Ada beberapa strategi praktis yang dapat dilakukan, antaralain yaitu dengan mengkombinasikan pendekatan interaktif dalam perlindungan orangutan dan habitatnya serta peningkatan peran alternatif masyarakat sekitar orangutan melalui program wanatani.

Tetapi yang menjadi prioritas utama kegiatan ini adalah dengan meningkatkan peran yuridis para penegak hukum dan masyarakat setempat, yakni dengan mengontrol dan mengajak masyarakat sekitar habitat orangutan untuk lebih interaktif dalam menghentikan dan memutus jalur perdagangan serta perburuan orangutan, melakukan pengawasan, penyitaan dan sosialisasi mengenai larangan memelihara dan perburuan satwa langka ini (Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistem, yang diperjelas dalam Lampiran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa).
3. Peran Kultur

Hal ini menyakut dalam bagaimana kondisi kultur akademik pelajar dan pemuda, dan norma yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Pelajar dan pemuda merupakan insan-insan terpelajar yang mampu memberikan pengarahan dan pemikiran tentang keadaan yang berkembang dilingkungan sekitarnya. Hal ini merupakan nilai plus untuk lebih memberikan peranannya, terutama dalam mengatasi permasalahan yang terjadi pada satwa endemik Asia Tenggara.

Pelajar dan pemuda dapat menjadikan norma dan adat istiadat yang berlaku sebagai modal awal dalam melakukan pendekatan terhadap masyarakat, pendekatan yang intensive dan terstruktur diharapkan dapat membuat masyarakat sadar akan pentingnya menjaga kelestarian satwa-satwa yang mulai punah termasuk oranguta. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan norma yang melarang penuh masyarakat memburu dan memperdagangkan orangutan, seperti yang terjadi di daerah Bali, para pemuka adat menerapkan bahwa masyarakat dilarang memburu dan memperdagangkan satwa langka dan dilindungi, dan banyak contoh daerah lainnya yang dapat kita terapkan dalam menjaga dan melindungi populasi orangutan dan habitatnya.

Dapatkah populasi orangutan kembali seperti semula? Jauh dari ancaman kepunahan, hanya kita yang dapat menjawab dan membuktikannya. Sekarang tunggu apa lagi? Apakah tunggu sampai mereka punah lalu kita berkoak-koak orangutan telah tiada !!!, atau kita hanya dapat berkata tanpa berbuat apa-apa !!!, dimana tanggung jawab kita, dimana moral dan hati nurani kita yang membiarkan mereka menangis sspenuh luka di ujung kepunahan, entahlah. Semoga kita dapat menjadi air bening membasuh lesuh muka yang telah lama dirundung duka.
(Penulis adalah aktifis komunitas GeoPeduli UNIMED, dan pendiri Newsletter Mata Pena Jurusan Pendidikan Geografi)

Seja o primeiro a comentar

Apa perbedaan antara hambatan dan kesempatan? Perbedaannya terletak pada sikap ita dalam memandangnya. Selalu ada kesulitan dalam setiap kesempatan: dan selalu ada kesempatan dalam setiap kesulitan.(J. Sidlow Baxter)

Fauzi Blog's © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO